Showing posts with label danau toba. Show all posts
Showing posts with label danau toba. Show all posts

Monday, May 18, 2026

Sebelas Hari Bersama Perempuan-Perempuan Hebat dari Eropa Timur Eksplor Sumatra

    

NINNA-Malam 4 Mei 2026, Bandara Kualanamu masih sibuk dan penuh suara orang berlalu-lalang. Aku berdiri menunggu tiga tamu spesial dari Slovakia dan Republik Czech. Tak lama kemudian, muncul tiga perempuan dengan koper besar dan wajah lelah setelah perjalanan panjang: Maria, Pavla, dan Hana.

Kami langsung berfoto bersama. Foto pertama dari perjalanan sebelas hari yang nantinya dipenuhi cerita, tawa, dan banyak kejutan kecil.

[caption id="attachment_37297" align="alignnone" width="1280"]DAMAYANTI_AIRPORT_PICK_UP Menjemput Maria, Pavla, dan Hana di Bandara Kualanamu bukan sekadar awal perjalanan, tapi awal dari sebelas hari cerita, tawa, dan persahabatan baru yang tumbuh di Sumatra. (foto ©Damayanti)[/caption]

Malam itu kami menuju hotel di Kota Medan. Awalnya suasana di mobil sedikit canggung, seperti orang-orang yang baru saling mengenal. Tetapi Maria mulai banyak bertanya, lalu percakapan mengalir begitu saja. Saat itu aku mulai merasa, perjalanan ini pasti akan menyenangkan.

Keesokan paginya kami memulai petualangan di Kota Medan. Kami mengunjungi Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun. Saat tiba di masjid, ternyata sedang ada doa bersama dalam jumlah besar. Orang-orang memakai pakaian rapi dan suasananya terasa tenang dan khusyuk.

Di Istana Maimun, ada kejadian lucu. Beberapa anak magang diam-diam memperhatikan Maria, Pavla, dan Hana sambil berbisik, “Bule… bule…” Sampai akhirnya Maria diminta berfoto bersama. Dalam hitungan menit, tour leader kami berubah jadi bintang dadakan di halaman istana.

[caption id="attachment_37298" align="alignnone" width="960"]Istana Maimun_Maria bersama para siswa/students Di Istana Maimun, Maria langsung jadi bintang dadakan. Anak-anak magang heboh berbisik “bule… bule…”, lalu dalam sekejap Maria diajak berfoto di halaman istana. Suasana sederhana yang berubah jadi tawa dan cerita kecil yang tak terlupakan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Perjalanan menuju Tangkahan cukup panjang. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah kedai cafe di Langkat. Ternyata kami berempat sama-sama pencinta kopi.

Maria sangat suka espresso dan punya standar tinggi untuk secangkir kopi. Untungnya, kopi hari itu berhasil membuatnya tersenyum puas.

Sebelum lanjut jalan, kami membeli pisang dan mangga dari penjual buah pinggir jalan. Maria lalu membagikan pisang itu satu per satu kepada kami.

Dari situlah aku mulai mengajarinya beberapa kata Batak yang lucu. Salah satunya “bodat”. Kami tertawa sepanjang perjalanan hanya karena satu kata sederhana.

Dari situ aku sadar, pariwisata sebenarnya hidup dari hal-hal kecil.

Bukan hanya hotel mewah atau tempat terkenal. Tetapi dari kopi lokal yang diminum bersama, buah yang dibeli langsung dari petani desa, atau warung kecil yang tetap bertahan karena ada wisatawan datang. Saat wisatawan membeli produk lokal, uang itu ikut membantu kehidupan masyarakat sekitar.

Dan Maria benar-benar suka melakukan itu. Ia tidak hanya mencari tempat cantik untuk difoto, tetapi juga ingin mengenal orang-orang di balik tempat itu.

Saat tiba di Tangkahan, Pavla dan Hana langsung terkejut melihat jembatan gantung panjang yang harus kami lewati sambil membawa koper. Mereka tertawa campur takut.

Beberapa ibu datang membantu mengangkat barang kami. Hal kecil seperti itu sering membuat tamu asing kagum pada keramahan orang Sumatra.

[caption id="attachment_37300" align="alignnone" width="1280"]TANGKAHAN Suasana makan siang di pinggir sungai di Tangkahan
(foto ©Damayanti)[/caption]

Siang itu kami makan di pinggir sungai. Suara air dan pepohonan membuat makan siang sederhana terasa sangat istimewa.

[caption id="attachment_37299" align="alignnone" width="960"]Makan Siang di Tangkahan Maria mengambil makan siang sederhana di tepi sungai, ditemani gemericik air dan rindangnya pepohonan. Di tengah alam yang tenang, setiap suapan terasa lebih hangat, lebih hidup, dan lebih berkesan. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu petualangan di Sungai pun dimulai.

Kami berjalan menuju air terjun, bermain air, lalu tubing menyusuri sungai. Kadang kami tertawa, kadang berteriak saat ban menghantam batu. Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak.

Keesokan harinya kami pergi ke camp gajah. Maria dan Pavla ikut memandikan gajah bersama pawang. Wajah mereka terlihat sangat bahagia terkena cipratan air dan lumpur.

Dari Tangkahan kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Lawang dengan jeep 4x4. Jalan berlumpur membuat mobil berguncang keras dan kami terus tertawa sepanjang perjalanan.

Di Bukit Lawang, suara Sungai Bahorok terdengar sepanjang malam.

Pagi berikutnya kami trekking masuk ke hutan Taman Nasional Gunung Leuser untuk mencari orangutan. Kami berjalan di bawah pohon-pohon besar yang tinggi sekali. Saat seekor orangutan muncul di atas pohon, semuanya langsung diam. Pavla dan Hana menatap penuh kagum. Rasanya seperti masuk ke dunia lain.

Hari-hari berikutnya terus mengalir seperti cerita panjang.

Kami menikmati udara dingin Berastagi, melihat Gunung Sinabung dari kejauhan, dan minum kopi di Erdillo Café.

[caption id="attachment_37317" align="alignnone" width="1280"]ERDILO CAFE-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Erdilo Coffee tempat nongkrong kopi di kai gunung Sinabung (foto: istimewa)[/caption]

Lagi-lagi Maria puas dengan espresso yang harum dan kuat rasanya. Bahkan ia sampai berfoto dengan latar Gunung Sinabung sambil memegang secangkir kopi.

[caption id="attachment_37301" align="alignnone" width="1600"]GUNUNG SIBAYAK SIBAYAK VOLCANO Subuh di Gunung Sibayak, kami mulai pendakian pukul empat pagi dalam gelap dan dingin yang menusuk.[/caption]

Subuh berikutnya kami mendaki Gunung Sibayak pukul empat pagi.

Udara dingin menusuk kulit. Jalan menanjak membuat napas terasa berat. Dalam gelap, kami hanya ditemani cahaya senter. Tetapi justru di perjalanan itu kami belajar bahwa mendaki gunung bukan hanya soal mencapai puncak, melainkan juga melawan rasa takut dan lelah dalam diri sendiri.

Setelah itu kami mengunjungi Desa Budaya Dokan. Rumah-rumah adat tua berdiri kokoh tanpa paku. Kayu-kayu tua, atap ijuk, dan kepala kerbau di ujung rumah membuat kami seperti kembali ke masa ratusan tahun lalu.

[caption id="attachment_37303" align="alignnone" width="1280"]DESA DOKAN KARO Desa Dokan menyambut kami dengan suasana tenang dan rumah adat Siwaluh Jabu yang berdiri kokoh sebagai saksi sejarah budaya Karo. (foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Air Terjun Sipiso-piso. Dari sana Danau Toba terlihat sangat luas dan tenang.

Setelah itu kami bertemu teman-teman Maria di sebuah kafe dekat Danau Toba. Aku heran mengapa Maria punya kenalan di mana-mana. Tetapi lama-lama aku sadar, ia memang tipe orang yang mudah berteman dengan siapa saja.

Saat tiba di Pulau Samosir, suasana perjalanan berubah lebih tenang.

Danau Toba seperti membuat semua orang melambat.

Besoknya kami mengunjungi Huta Siallagan dan aku mulai bercerita tentang adat Batak, kursi batu Raja Batak, serta filosofi cicak dan payudara yang menghiasi rumah adat Batak Toba.

Aku menjelaskan bahwa cicak melambangkan orang Batak, sementara bentuk payudara melambangkan pentingnya keturunan dan penghormatan kepada ibu atau kampung halaman.

Maria, Pavla, dan Hana mendengarkan dengan serius. Aku senang melihat mereka benar-benar menghargai cerita budaya yang kubagikan.

Dari sana kami menuju Kampung Ulos Hutaraja, kampung leluhurku. Sebelum tiba, aku sengaja menunjukkan Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir.

[caption id="attachment_37318" align="alignnone" width="960"]TUGU MEWAH SIMANUHURUK DI SAMOSIR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Berhenti sejenak di Tugu Simanihuruk, salah satu tugu paling megah di Samosir (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah minum kopi bersama, aku mengajak mereka ke Rumah Belajar Hutaraja yang pernah kubuka di rumah warisan nenek buyutku.

[caption id="attachment_37310" align="alignnone" width="1200"]RUMAH BELAJAR HUTARAJA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kami berfoto bersama di Rumah Belajar Hutaraja, rumah belajar yang pernah ku buka namun akhirnya ku tutup karena tidak mampu melanjutkan operasionalnya (foto ©Damayanti)[/caption]

Di rumah sederhana itu aku pernah mengajar anak-anak Bahasa Inggris agar mereka berani berbicara dengan wisatawan asing dan memiliki masa depan lebih luas.

 

Perjalanan kami lanjut ke Air Terjun Nai Sogop, meski hujan sempat menghambat langkah kami. Karena lapar, kami akhirnya makan siang di Panorama Tele.

Maria yang baru pertama kali ke sana tampak sangat antusias mengabadikan pemandangan, bahkan kembali menjadi pusat perhatian anak-anak yang meminta foto bersama.

[caption id="attachment_37320" align="alignnone" width="1600"]PANORAMA TELE_DAMAYANTI_TOUR GUIDE SUMATRA Pemandangan indah di sky bridge Panorama Tele (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelah hujan reda, kami akhirnya tiba di Nai Sogop. Walau air terjun tampak lebih coklat akibat hujan deras, Maria dan Pavla tetap menikmati suasana alam yang liar dan menenangkan itu.

[caption id="attachment_37319" align="alignnone" width="960"]AIR TERJUN NAI SOGOP-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Hujan deras membuat Air Terjun Nai Sogop tampak lebih coklat, tetapi suasana alamnya tetap memikat hati Maria dan Pavla. (foto ©Damayanti)[/caption]

Keeksokan harinya adalah hari istirahat panjang bertepatan saat itu Hari Minggu. Dari kami, ada yang ibadah, ada yang sibuk dengan laundry dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Perjalanan terus berlanjut menuju Padang Sidempuan dan Bukittinggi.

[caption id="attachment_37302" align="alignnone" width="960"]FOTO BERSAMA WARGA KAMPUNG GIRSANG Berfoto bersama warga Kampung Girsang, kami disambut dengan kehangatan sederhana yang terasa tulus. (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi sebelumnya kami berhenti di Kampung Girsang, di sinilah tempat tinggalku sekarang. Sebagai seorang yang tak mungkin mendapat warisan tanah, aku mesti memikirkan masa depanku sendiri.

Sengaja kuajak Maria melihat tempat tinggalku, sebuah gubuk kecil di Kampung Girsang. Aku bercerita bahwa saat tidak membawa tamu, aku sibuk mengurus usaha kecil yang baru saja kubangun, yakni usaha kemiri.

[caption id="attachment_37321" align="alignnone" width="1600"]USAHA KEMIRI GIRSANG_DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Kujak Maria melihat gubuk kecilku di Kampung Girsang, tempat aku membangun mimpi kecil lewat usaha kemiri. (foto ©Damayanti)[/caption]

Bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar aku bisa bertahan hidup di kampung kecil dengan pergerakan ekonomi yang terbatas ini. Sejak 2018, aku memilih tinggal di Danau Toba dan fokus mempromosikannya melalui pekerjaanku sebagai travel writer dan tour guide.

Namun bagiku, menjadi pemandu wisata bukan hanya soal membawa wisatawan berkeliling, melainkan juga tentang membangun sesuatu yang berarti bagi masyarakat lokal dan masa depanku sendiri.

Karena itu aku mulai bermimpi mengembangkan Kampung Girsang sebagai kampung wisata kecil yang hidup dari kekuatan masyarakatnya sendiri. Di sini ada kebun kopi, cengkeh, nanas, hingga usaha kecil seperti kopi sangrai, dan lainnya yang dijalankan warga.

Sedikit demi sedikit aku mencoba membantu lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan, termasuk mendukung kelompok pembibitan kopi yang baru kami mulai tahun ini.

Bagiku, perjalanan ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang memperlihatkan sisi nyata Danau Toba yakni kehidupan masyarakat lokal, mimpi-mimpi kecil, dan harapan agar kampung ini tetap hidup.

Setelah berkunjung ke kampung ini, kami beranjak menuju Padang Sidempuan. Sebelumnya, kami berkunjung ke Aek Rangat Sipoholon. Selain itu, kami menikmati makan siang di Café Gorga, Tapanuli Utara.

[caption id="attachment_37322" align="alignnone" width="1280"]HOT SPRING SIPOHOLON_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Menjelajahi kehangatan alam dan tradisi unik di Aek Rangat Sipoholon.(foto ©Damayanti)[/caption]

Lalu kami menuju Hotel Mega Permata di Padang Sidempuan.
Keesokan harinya, kami lanjut perjalanan menuju Bukit Tinggi. Seperti biasa, kami akan berhenti di sejumlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Kami berhenti di tempat menempah parang atau pisau. Di sini rata-rata masyarakat memiliki usaha seperti ini. Aku pun tertarik untuk membeli sebilah pisau tajam yang cocok untuk ku pakai mengupas buah.

[caption id="attachment_37312" align="alignnone" width="1280"]PEMBUATAN PISAU DI SEKITAR PADANG SIDEMPUAN -DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Lokasi pembuatan pisau ataau oarang di sekitar Padang Sidempuan (foto ©Damayanti)[/caption]

Akan tetapi, seperti biasa, Maria punya cara untuk membuatku tertawa. Dia bilang pisau itu akan ku pakai jaga diri siapa tahu ada yang berniat jahat padaku. Maria memang selalu punya pernyataan yang buatku senyum. Setelahnya, kami lanjutkan perjalanan menuju Equator.

Tetapi sebelum tiba, kami mendengar ada bunga bangkai amorphophallus titanium di tengah jalan yang sedang mekar. Saat itu kami melihat bunga itu menarik banyak perhatian warga yang lalu lalang. Kami sempat berhenti di tengah gerimis dan mengabadikan gambarnya.

[caption id="attachment_37313" align="alignnone" width="960"]BUNGA BANGKAI amorphophallus titanum Bunga Bangkai Amorphophallus Titanum (foto ©Damayanti)[/caption]

Berikutnya kami tiba di Taman Wisata Equator Bonjol, kami berhenti di garis khatulistiwa untuk berfoto bersama. Kami semua juga mendukung para pedagang kaos yang selalu tak pernah jauh dari kami. Bolak-balik membujuk kami membeli kaosnya.

Aku yang sudah punya stok 3. Maria juga sudah punya banyak stok, akhirnya membeli kembali. Bukan karena butuh tapi kami anggap itu cara kami mendukung para pedagang. Kaosnya bisa kami berikan buat orang terdekat kami.

[caption id="attachment_37323" align="alignnone" width="1280"]GARIS KHATULISTIWA DI TAMAN BONJOL SUMBAR_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Berfoto di garis khatulistiwa di Taman Wisata Equator Bonjol di saat yang sama para pedagang mendekati kami, membujuk kami untuk membeli barang dagangan mereka. (foto ©Damayanti)[/caption]

Setelahnya, kami menuju Hotel Santika Dyandra Bukit Tinggi. Aku sendiri menginap di salah satu penginapan kawan HPI Bukit Tinggi bernama Erwin. Banyak pemandu wisata maupun supir menginap di sini.

[caption id="attachment_37327" align="alignnone" width="1280"]PAGARUYUNG SUMBAR-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Memandang megahnya Istano Basa Pagaruyung (foto ©Damayanti)[/caption][caption id="attachment_37325" align="alignnone" width="1280"]Panorama Sianok_DAMAYANTI-TOUR GUIDE SUMATRA Panorama Sianok (foto ©Damayanti)[/caption]

Keesokan harinya, kami menuju Panorama Sianok, Istana Pagaruyung, dan terakhir kami mengunjungi Pusat Oleh-Oleh Kiniko Kopi yang di sini kita bisa lihat pengelolaan kopi.
Dan tanpa terasa, tibalah hari terakhir yakni hari kesebelas.

[caption id="attachment_37305" align="alignnone" width="960"]KINIKO_KOPI_WESTSUMATRA Kami berkunjung ke Rumah Produk Kopi KINIKO (foto ©Damayanti)[/caption]

Kami menuju Bandara Padang melalui Lembah Anai. Jalan terasa lebih sunyi dibanding hari pertama karena akhirnya berpisah dengan mereka. Sebelas hari terasa sangat cepat.
Perjalanan ini bukan hanya tentang tempat-tempat indah di Sumatra.

[caption id="attachment_37326" align="alignnone" width="960"]PERPISAHAN DENGAN MEREKA-DAMAYANTI TOUR GUIDE SUMATRA Perpisahan dengan mereka di Bandara Minangkabau, Padang (foto ©Damayanti)[/caption]

Tetapi tentang tawa di dalam mobil, di perjalanan, kopi yang diminum bersama, pisang yang dibagi di tengah perjalanan, suara sungai di Tangkahan, orangutan di hutan, dan cerita kecil yang membuat kami terasa seperti teman lama.

Maria, Pavla, dan Hana datang sebagai tamu.
Tetapi mereka pulang sebagai bagian dari cerita yang akan selalu aku ingat.

Dan mungkin, harapan untuk Sumatra memang bisa tumbuh dari perjalanan-perjalanan sederhana seperti ini.

Perjalanan yang membuat wisatawan tidak hanya melihat alam, tetapi juga belajar mencintai manusia dan kehidupan di baliknya.

*Penulis/Editor: Damayanti Sinaga
Tour Guide Sumatra

Tuesday, November 18, 2025

Dua Puluh Destinasi di Sekitar Parapat-Ajibata Danau Toba

  NINNA.ID —Pernahkah kamu merasa ada suara magis dari Danau Toba yang memanggilmu untuk singgah lebih lama? Di Parapat dan Ajibata, dua kota kecil yang nyaris menyatu tapi tetap punya jiwa masing-masing, kamu akan menemukan lebih dari sekadar pemandangan indah. Keduanya adalah gerbang menuju petualangan, budaya, dan kenangan yang tak mudah terlupakan.

Meski hanya dipisahkan oleh ruas jalan, Parapat yang berada di Kabupaten Simalungun dan Ajibata di Kabupaten Toba menyimpan kekayaan destinasi yang berlimpah.

Parapat menawarkan deretan hotel dari yang sederhana hingga mewah, berdiri anggun di tepi Danau Toba dan puncak bukit, dengan panorama yang siap memanjakan mata dan hati.

Sedangkan Ajibata dengan sentuhan alamnya yang asri dan destinasi baru yang terus bermunculan, memberikan nuansa petualangan yang berbeda tapi sama-sama memikat.

Berikut ini 20 destinasi berjarak sekitar 15-20 km dari Kota Parapat atau Ajibata yang wajib kamu kunjungi. Destinasi ini siap membuat liburanmu bukan sekadar perjalanan, tapi pengalaman penuh cerita.

  1. Kampung Warna-Warni Parapat

Melewati kampung ini seperti masuk ke lukisan hidup, dengan rumah-rumah bercat warna cerah yang memancarkan keceriaan dan kebersamaan warga. Tempat ini bukan cuma Instagramable, tapi juga wadah kebanggaan lokal yang sudah menembus 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia.

[caption id="attachment_497" align="alignnone" width="720"]Kampung Tiga Rihit 
Cahaya lampu dari kampung warna warni Tiga Rihit yang dipantulkan permukaan Danau Toba terlihat seperli lukisan alam. (Foto/Ferindra)[/caption]
  1. Pasanggrahan Presiden Soekarno

Jejak sejarah mengalir di bangunan anggun ini. Di tepi Danau Toba, tempat ini menyimpan kisah masa pengasingan Bung Karno, membuat setiap sudutnya terasa penuh makna dan aura perjuangan yang menyentuh jiwa.

[caption id="attachment_28850" align="alignnone" width="1920"]Pasanggrahan Presiden Soekarno
Pasanggrahan Presiden Soekarno (foto: istimewa)[/caption]
  1. Bukit Senyum

Namanya sudah membawa kebahagiaan. Dari sini, Danau Toba dan Pulau Samosir tersaji dalam panorama menawan, tempat sempurna untuk healing dan selfie sambil menikmati udara segar.

[caption id="attachment_35759" align="alignnone" width="1000"]BUKIT SENYUM DESA MOTUNG 
Bukit Senyum yang terletak di Desa Motung Kabupaten Toba (foto: istimewa)[/caption]
  1. The Kaldera Nomadic Escape

Spot foto kekinian dengan Jokowi’s Point yang legendaris. Nikmati pengalaman glamping dengan latar Danau Toba yang memesona—tempat di mana alam dan kenyamanan berpadu.

[caption id="attachment_32534" align="alignnone" width="1268"]KALDERA Beberapa jenis wisata yang direkomendasi kepada peserta PON XXI antara lain: menjelajahi keindahan destinasi wisata yang ada di Kawasan Danau Toba seperti: Kaldera di Sibisa (foto: BPODT)[/caption]
  1. Taman Eden 100

Dari hutan lebat, air terjun memukau, hingga jalur trekking seru, tempat ini adalah surganya pencinta alam. Belajar sekaligus menyatu dengan Geopark Kaldera Toba di sini sangat menyegarkan.

[caption id="attachment_3918" align="alignnone" width="600"]Air Terjun Tongguran Air Terjun Tongguran di Taman Eden.(foto:asmon)[/caption]
  1. Kampung Girsang

Tak jauh dari Parapat, Kampung Girsang menanti dengan segala kehangatan budaya Batak. Rumah adat tua, panorama sawah terasering, dan spot-spot memukau seperti Bukit Sirikki, Bukit Simumbang—semuanya memanjakan mata.

Budaya gotong royong tetap hidup di sini, menjadikan Girsang lebih dari sekadar destinasi wisata. Ini adalah pengalaman autentik yang membuatmu merasa seperti pulang ke rumah.

[caption id="attachment_35461" align="alignnone" width="2000"]KAMPUNG GIRSANG 
Kampung Girsang yang memiliki banyak daya tarik. (foto: Damayanti)[/caption]
  1. Taman Kera Sibaganding

Wahana seru untuk keluarga dengan penghuni primata lucu seperti si Siamang. Kamu bisa berinteraksi langsung dan belajar dari pawangnya yang ramah.

[caption id="attachment_26644" align="alignnone" width="2560"]Tour Guide Para peserta Fam Trip Simalungun bercengkerama dengan Nelly (foto: Damayanti)[/caption]
  1. Pantai Bebas

Pantai bebas merupakan ruang terbuka publik yang disiapkan pemerintah agar masyarakat dapat menikmati fasilitas yang ada.

Pantai bebas direnovasi pada 2019 dan diresmikan oleh Jokowi pada Februari 2022.

[caption id="attachment_5062" align="alignnone" width="600"]Sisi Danau Toba Areal parkir dan taman Pantai Bebas Kota Parapat.(foto:damayanti)[/caption]

Di pantai bebas ini, plang “I love Danau Toba-Simalungun” yang sudah ada sebelumnya, diubah menjadi lebih menarik. Tulisan dengan huruf kapital dicat warna silver.

Ada juga tangga khusus yang hanya dapat dilalui maksimal 6 orang. Dari tangga ini kita dapat berfoto selfie dengan latar belakang pemandangan Danau Toba.

Ada taman-taman yang berisi bunga-bunga ditata dengan rapi. Bagi anak muda yang suka olah raga ekstrim, telah disediakan area skateboard.

Ada wahana bermain, sejumlah bangku, toilet, dan pondok untuk berisitirahat. Lintasan menuju areal parkir juga sangat mulus.

  1. River Side Juma Bulu Sijambur

Destinasi baru dengan panorama sawah dan sungai jernih, sempurna untuk slow travel, yoga, dan photoshoot. Suasana tenang yang membuat siapa saja betah.

[caption id="attachment_35580" align="alignnone" width="2048"]RIVER SIDE JUMA BULU 
Suasana di River Side Juma Bulu (Foto ©Damayanti)[/caption]
  1. Bukit Pass Desa Bangun Dolok

Camping dan sunrise di sini jadi pengalaman luar biasa. Dari puncak bukit, satu pertiga Danau Toba terbentang luas, bikin momen pagi makin magis.

[caption id="attachment_35762" align="alignnone" width="1280"]BUKIT PASS BANGUN DOLOK 
Bukit PASS Bangun Dolok (foto: istimewa)[/caption]
  1. Replika Ikan Mas di Sipolha

Gerbang masuk berbentuk mulut ikan raksasa mengajakmu masuk ke dunia legenda Danau Toba. Eduwisata menarik yang menggabungkan mitos dan pemandangan.

[caption id="attachment_32023" align="alignnone" width="1280"]Replika Ikan Mas Replika Ikan Mas di Desa Sipolha kini terlihat lebih menarik setelah direnovasi (foto: Damayanti)[/caption]
  1. Pusat Informasi Geopark Nasional Kaldera Toba

Pusat edukasi geologi, hayati, dan budaya yang membuka mata tentang keunikan Kaldera Toba. Tempat wajib singgah untuk menambah wawasan wisatawan.

[caption id="attachment_35760" align="alignnone" width="1024"]PUSAT INFORMASI GEOPARK DI PARAPAT Pusat Informasi Geopark Nasional Kaldera Toba di kompleks panggung terbuka, Parapat, Simalungun. (foto: istimewa)[/caption]
  1. Batu Gantung

Simbol janji dan kesetiaan dari kisah tragis Seruni, Batu Gantung membawa nuansa emosional dan budaya Batak yang dalam, sekaligus menjadi spot refleksi jiwa.

[caption id="attachment_4700" align="alignnone" width="600"]Batu Gantung Objek Batu Gantung terlihat menggantung di tebing jurang.(foto"asmon)[/caption]
  1. Air Terjun Bukit Gibeon

Kolam renang alami dengan air pegunungan yang dingin menyegarkan. Suasana alam Kaldera Toba bikin pengunjung betah berlama-lama.

[caption id="attachment_2681" align="alignnone" width="601"]Bukit Gibeon 1 Air terjun menjadi sumber air ke kolam di Pemandian Bukit Gibeon.(Foto:asmon)[/caption]
  1. Bukit Sipolha dan Pulau Hole

Spot trekking dengan pemandangan Danau Toba dan pulau mungil di tengah danau. Tempat ini mengajarkan kita menjaga alam sembari menikmati keindahannya.

[caption id="attachment_3456" align="alignnone" width="1000"]Singgahi 5 surga Bukit Sipolha Bukit Sipolha.(Foto:ist)[/caption]
  1. Air Terjun Situmurun

Air terjun magis yang langsung mengalir ke Danau Toba, menawarkan kesegaran dan pemandangan dramatis yang sulit dilupakan.

[caption id="attachment_2452" align="alignnone" width="653"]Air Terjun Situmurun 1 Air Terjun Situmurun di Desa Hatinggian Kecamatan Lumbanjulu Kabupaten Toba, dari tangkapan drone.(Foto:drone)[/caption]

17. Ekowisata KHDTK Aek Nauli,di Simalungun

Inilah destinasi wisata alam yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajarkan kita pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Di sini, kamu bisa bertemu rusa, bermain bersama gajah di hari tertentu, atau sekadar menikmati udara segar di camping ground. Ada rute pendakian yang menantang dan pondok-pondok istirahat untuk melepas lelah.

Taman rusa dan konservasi gajah di KHDTK Aek Nauli begitu memikat, mudah ditemukan di pinggir Jalan Raya Parapat Sibaganding, sebelum melewati Panatapan Parapat. Di sisi kiri jalan (jika datang dari Medan) terpampang tulisan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), sementara di sisi kanan ada tulisan KHDTK Aek Nauli.

[caption id="attachment_5316" align="alignnone" width="2560"]Aek Nauli Sisi kanan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Aek Nauli jika datang dari Pematangsiantar.(foto:damayanti)[/caption]

Setiap sudut di Aek Nauli menyimpan keindahan alami yang wajib dijaga. Jangan lupa, jika ingin melihat gajah atau berkemah, pastikan kamu mengurus izin dan retribusi yang telah ditentukan.

Jadi, sebelum kamu mengagumi keindahan Danau Toba, sempatkan dulu bertualang di KHDTK Aek Nauli. Yuk, nikmati pesona alamnya dan jangan lupa jaga kebersihan agar keindahannya tetap lestari hingga generasi mendatang!

18. Binanga Cafe

Binanga Cafe di Toba menghadirkan pengalaman unik menikmati kuliner di tengah aliran sungai, tanpa dekorasi modern seperti plafon, bar, atau lukisan abstrak. Lantainya berupa batu alam pipih yang nyaman dipijak karena bebas lumut. Terletak di Lumbanrang, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba, cafe ini dapat ditemukan saat melintasi jembatan Lumbanrang, sekitar 300 meter dari Simpang Taman Eden 100.

Dikelola oleh Marandus Sirait dan Ranap Manurung, Binanga Cafe dibuka pada 5 Juni 2021. Menu andalannya adalah beragam olahan ikan khas Batak seperti arsik, ikan bakar, naniura, hingga ikan jumbo seberat 5 kg. Tersedia juga madu asli dengan honeycomb. Sensasi bersantap di sungai, sambil menikmati ikan yang berenang dan kaki yang digelitik air, menambah pengalaman tak terlupakan.

[caption id="attachment_1423" align="alignnone" width="559"]Binanga Cafe Binanga Cafe di Lumbanrang, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba.(Foto:istimewa)[/caption]

Setelah makan, pengunjung bisa bersantai di hammock sambil menikmati suasana alam yang asri. Bagi wisatawan yang mengunjungi Kaldera Toba, Binanga Cafe menjadi destinasi wajib, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan selama pandemi.

19.Batu Lihi Star Simalungun

Menjelajahi jalur sejuta pesona Parapat – Medan via Simarjarunjung dan Saribu Dolok selalu membuat traveler sulit beranjak cepat, karena pemandangan alamnya yang memikat. Salah satu magnet utama di sepanjang jalur ini adalah Batu Lihi Star, destinasi yang menawarkan panorama Danau Toba, Pulau Samosir, dan Bukit Senyum dari ketinggian.

Tepat di Batu Lihi Star, pengunjung bisa menyaksikan hamparan keramba jaring apung yang tampak seperti cincin raksasa di danau, spot selfie dengan menara khusus, serta tempat ikonik bernama Tikungan Mesra. Konon, jika pasangan berfoto di Tikungan Mesra, hubungan mereka akan langgeng hingga kakek-nenek. Syaratnya, pria harus mengenakan topi ulos, dan wanita memakai sortali ulos yang disediakan gratis.

[caption id="attachment_6529" align="alignnone" width="667"]Tikungan Mesra Batu Lihi 1 Salah satu spot foto di Batu Lihi Simalungun.(foto:asmon)[/caption]

Selain panorama menawan, Batu Lihi Star juga dilengkapi fasilitas lengkap seperti minimarket, penginapan, kuliner, serta bebas biaya parkir. Lokasinya di Pematang Tambun Raya, Simalungun, hanya sekitar 30 menit dari Parapat atau Pematangsiantar.

Jangan lupa, di Batu Lihi Star, pesona alam berpadu dengan legenda romantis—tempat ini layak menjadi persinggahan wajib di jalur sejuta pesona.

20. Beragam Pantai Pasir

Dahulu, hampir seluruh tepi Danau Toba berupa pantai pasir putih yang berfungsi untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Seiring waktu, banyak pantai di kawasan tersebut dibangun menjadi hotel dan tempat wisata pantai pasir.

[caption id="attachment_5457" align="alignnone" width="600"]pantai wisata bahari parapat 1 Para pengunjung Pantai Wisata Bahari bermain di pantai.(foto:damayanti)[/caption]

Di Parapat dan Ajibata sekitarnya ada banyak hotel terintegrasi dengan pantai. Misalnya Pantai Wisata Bahari. Ada juga pantai yang dikelola oleh masyarakat.

Kenapa Kamu Harus Eksplor Parapat Ajibata Sekarang?
Karena Parapat dan Ajibata bukan hanya gerbang menuju Pulau Samosir. Mereka adalah destinasi penuh warna, sejarah, budaya, dan keindahan alam yang siap membawamu pulang dengan cerita dan kenangan indah.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Wednesday, December 11, 2024

Perjalanan Menakjubkan Tamu dari Malaysia ke Danau Toba: Dari Kuala Lumpur ke Pesona Sumatra Utara

  

Perjalanan tamu kami dari Malaysia bernama Zali ke Danau Toba, berlangsung selama empat hari dari 19 November hingga 22 November 2024. Perjalanannya juga direkam dalam channel videonya.

Dengan latar belakang keindahan alam, budaya yang kaya, dan keramahan penduduk lokal, perjalanan ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.

Hari 1: Dari Kualanamu ke Kebun Teh Sidamanik, Simarjarunjung

Pada hari pertama, Bang Zali tiba di Bandara Kualanamu dan dijemput oleh supir lokal, Abednego. Setelah menikmati makanan halal di sekitar bandara, perjalanan berlanjut menuju Kebun Teh Sidamanik di Kabupaten Simalungun. Tempat ini terkenal sebagai salah satu perkebunan teh terbesar di Indonesia dengan pemandangan hijau yang memukau.

Di perjalanan, Bang Zali sempat singgah di Bukit Simarjarunjung, yang menawarkan pemandangan spektakuler Danau Toba dari ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Hari ditutup dengan makan malam dan briefing singkat tentang kegiatan esok hari.

Hari 2: Menjelajahi Samosir dan Budaya Batak

Bang Zali memulai hari dengan sarapan di SiRulo Homestay, penginapan yang nyaman dengan pemandangan langsung ke Danau Toba. Agenda hari ini mencakup kunjungan ke Kampung Ulos Hutaraja, tempat pengrajin lokal memproduksi kain ulos yang indah, simbol budaya Batak.

Perjalanan dilanjutkan ke Tano Ponggol Bridge, jembatan penghubung Sumatra dengan Pulau Samosir, dan eksplorasi ke Bukit Sibea-bea yang terkenal dengan panorama perbukitan dan patung Kristus. Hari kedua diakhiri dengan petualangan ke Air Terjun Nai Sogop, destinasi tersembunyi yang mempesona dengan air terjun bertingkat dan kolam alami yang jernih.

Hari 3: Bukit Holbung 

Hari ketiga membawa Bang Zali ke Bukit Holbung, yang dikenal dengan hamparan bukit hijau bergelombang dan pemandangan danau yang menakjubkan. Setelah makan siang di sekitar Bukit Holbung, perjalanan berlanjut ke Aek Rangat Pangururan, sumber air panas alami di Samosir. Malam hari diisi dengan barbeque santai di SiRulo Homestay, memberikan waktu untuk bercengkerama atau beristirahat.


Hari 4: Menutup Perjalanan dengan Lintas Danau

Hari terakhir dimulai dengan menyeberang dari Pelabuhan Tomok di Samosir menuju Parapat dengan kapal feri. Perjalanan dilanjutkan ke Bandara Kualanamu melalui jalur tol. Meskipun singkat, perjalanan ini penuh dengan pengalaman yang memperkaya jiwa.

Kenangan yang Berharga

Perjalanan Bang Zali ke Danau Toba adalah contoh sempurna bagaimana alam, budaya, dan tradisi dapat menciptakan petualangan yang tak terlupakan. Danau Toba tidak hanya menawarkan keindahan pemandangan, tetapi juga kehangatan masyarakat lokal dan kekayaan budaya Batak yang autentik.

Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak Bang Zali, Danau Tobamenanti dengan segala pesonanya!

Hubungi kami di nomor Whatsapp 085297732855

Google Maps

https://g.page/r/CYq2M0iYcNQ2EAI/

Website

https://easygotolaketoba.com

 Whatsapp

https://wa.me/6285297732855?text=Hallo Damayanti..."

 

 

Wednesday, October 9, 2024

Huta Simandalahi, Bukti Kisah Keturunan Toga Sinaga Berpencar dari Samosir Menuju Girsang 1 Simalungun

Simalungun, NINNA.ID– Suku Batak dikenal sebagai orang yang senang merantau, berpencar. Alasan utama biasanya untuk membuka lahan atau mencari kehidupan yang lebih baik. Demikian halnya keturunan Toga Sinaga. Toga Sinaga merupakan keturunan Raja Batak.

Silsilah Dimulai Raja Batak

Dari yang bermukim di Pusuk Buhit, keturunannya berpencar ke berbagai desa di Pulau Samosir. Salah satunya yakni Toga Sinaga bermukim di Desa Urat di Pulau Samosir.

Lama-kelamaan, keturunan Toga Sinaga pun menyebrangi Danau Toba lalu bermukim di Kabupaten Simalungun.

Dimulai dari membuka perkampungan atau huta yang ada di Sibaganding hingga menyebar ke wilayah Girsang Sipanganbolon lainnya.

Sekalipun keturunan Sinaga tersebut adalah suku Batak Toba, kenyataannya secara administrasi wilayah tersebut masuk wilayah Kabupten Simalungun.

Silsilah Toga Sinaga

Berdasarkan keterangan yang didapat dari generasi ke-13 Simandalahi yakni Samsudin Parulian Ganda Sinaga, Simandalahi merupakan keturunan dari Suhut Nihuta.





Ia menjelaskan, Suhut Nihuta punya empat anak laki-laki. Salah satunya Sorak Maunok. Sorak Maunok belakangan punya anak laki-laki yang dinamai Suhut Maraja.

Suhut Maraja memiliki dua istri. Istri pertama boru Sihotang yang memberinya putra bernama Sidasuhut dan Sidallogan.

Karena boru Sihotang meninggal, ia memperistri boru Manurung yang melahirkan Simaibang, Simandalahi, dan Simanjorang.

Jejak dari keturunan Suhut Maraja ini dapat kita temukan hingga sekarang di Kecamatan Girsang Sipanganbolon. Ada kampung atau huta yang bernama Sidasuhut, Sidallogan, Simaibang, Simandalahi, dan Simanjorang.

Huta yang dinamai Simaibang terdapat di Sipanganbolon. Huta yang dinamai Simandalahi terdapat di Girsang, Sipanganbolon, Bangun Dolok, dan Hasinggaan.

Huta Simandalahi

Hingga sekarang kita bisa menyaksikan tapak tilas keturunan Suhut Maraja bernama Simandalahi di Girsang 1 yakni di Huta Simandalahi.

Huta ini berada di ujung jalan Girsang 1, jalur sebelah kiri dari Pohon Hariara (Beringin).


Huta Simandalahi

Salah seorang traveler berkunjung ke Huta Simandalahi (foto ©Damayanti)

Setidaknya ada tiga Rumah Batak yang masih bisa kita lihat di Huta Simandalahi.

Kebanyakan keturunan Sinaga di Huta Simandalahi merantau atau berpencar ke tempat lain. Meski begitu, Huta Simandalahi statusnya masih milik marga Sinaga Simandalahi.

Tidak ada kisah kanibalisme atau hukuman mati seperti di Huta Siallagan pernah terjadi di Huta Simandalahi.

Ukuran rumahnya juga cenderung sama satu sama lain. Motif dan warna juga demikian.

Dapat disimpulkan Raja bernama Simandalahi dan keturunannya tidak terlalu menonjol dalam banyak hal.

Sekalipun demikian, sebagaimana suku Batak lainnya, keturunan Simandalahi hidup dari sektor pertanian.

Di sekitar Huta Simandalahi, ada banyak pepohonan lebat yang dapat dipastikan ditanam oleh Simandalahi dan keturunannya di masa silam.

Saat kita berkunjung kesini, kita akan melihat kebun-kebun sekitar berisi pohon durian, petai, kopi, nira dan lainnya.

Silsilah Penting bagi Suku Batak

Bagi orang Batak, tarombo atau silsilah sangat penting untuk menentukan kedekatan satu dengan lainnya.

Raja Bataklah yang mulai melestarikan silsilah yang dalam Bahasa Batak disebut Tarombo.

Huta Simandalahi

Tarombo ditulis dalam Pustaha Laklak berisi bagan tentang keturunan Raja Batak hingga ke beberapa generasi.

Jika kita perhatikan Tarombo dari Raja Batak hingga Simandalahi jelas bahwa orang Batak berasal dari leluhur yang sama. Berawal dari Siraja Batak kemudian berkembang menjadi marga-marga.

Hingga catatan silsilah berdasarkan garis keturunan ini lazim disimpan dan dituliskan dari generasi ke generasi.

Dapat dikatakan dari sekian banyak suku di Indonesia, suku Batak memiliki hasrat bawaan untuk mengetahui leluhurnya dan melestarikan nama keluarganya.

Itu sebabnya, saat berjumpa dengan sesama Batak, yang kerap ditanya adalah marga, bukan nama.

Selain itu, bagi orang Batak sangat penting punya anak laki-laki yang meneruskan nama keluarga atau marga.

Jika kelak Sobat Ninna berkunjung ke Huta Simandalahi atau jumpa dengan marga Simandalahi, ingatlah bahwa mereka adalah keturunan Toga Sinaga, marga atau boru Sinaga. Sudah tentu mereka pun adalah keturunan Raja Batak.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

 

 

Saturday, March 23, 2024

Wonderful Day Joined Lake Toba Trip with 14 People Guests from Holland and Belgium

NINNA.ID-Since July 2023, many Europeans visit Lake Toba. Until now August 2023, many tour guides especially local guides in Samosir Island, has booked by some tour travel operators.

A tour guide named Daniel Manik told to Ninna,” I got booked by some of the tour travel operators. I was so busy since July bringing European guests. It will continue until September.”

One of the writers in Ninna was invited by Nurdin Nasution to join Lake Toba Trip with 14 guests from Holland and Belgium. Friday 11th, 2023 became a wonderful day.

The trip starts at 09.00 am. We used the boat from Toledo Inn. We visited Sigapiton Village. There we trekked starting from the harbor to a school SD NO 173671 Sigapiton.

During trekking, all that joined the group listened to the explanation about this village. Here is the explanation about this village.

Sigapiton is flanked by two mountains. In Batak or Bahasa Indonesia, we called “digapit or diapit”. That is the reason it was named Sigapiton. This village was in a bay of Lake Toba.

Although it is close to Lake Toba, the people there do not use water from the lake for household.

There are some fountains that flow from the mountain and to be flowed to each house.

TOLEDO INN
14 guests from Holland and Belgium (photo: Damayanti)

We can see the water from the fountains come from an irrigation ditch.

Worthy to be Called a Geopark

“Do you think Lake Toba worthy to be called a Geopark?” asked the guide. Some of the guests who really focusing on listening to the explanation answered,” Yes! Lake Toba is worthy to be called a national Park or Geopark!”

The guide asked the guests,” As we know water usually comes from higher to lower level. Why does water from above never stop flowing? And where does the water come from?


SIGAPITON VILLAGE
The guest seeing the scenery of Sigapiton Village (photo: Damayanti)
 

No one can answer the guide. She (the guide) explains, “The water always flows because there is much water. The mountains are the place to store water.

Mountains save water especially when there is much rain.

Mountains in Sigapiton have forested slopes that absorb the rain like a sponge, allowing it to run downhill gently to the rivers or irrigation ditch, rather than cause devastating floods,”

After the explanation, we passed some of the trees. There are candle nuts, avocados, coffee, corn, peanuts, and other plant. The guide shows and called the name of each of them.

As Lake Toba is situated 3,000 feet or at least 900 m above sea level, there are many trees that can grow here. Palm trees, pine trees, and other unique trees flourish side by side in this temperate paradise.

Visit School

After a long explanation, we arrived at a government school, there we were welcomed by the teacher and kids in the yard. They greet us using English.

It made the 14 guests feel welcome there. Later the kids do the Tor-Tor dance. They also invited all guests to dance.

It was a wonderful day. The kids were very happy especially when they met Tibo and his brother. Tibo, a guest from Holland has a big muscle.

Most of the kids noticed it. They show their muscle to Tibo. Many funny things they did with Tibo. They were having fun together.


DANCING
Kids and the guests dancing together (photo: Damayanti)
 

To Situmurun Waterfall

After spending a few hours in the school, we moved to our boat and we went to Situmurun Waterfall. It took around more than one hour. When we arrived in Situmurun, we have lunch. Then all the guest swam onto the Lake Toba and get close to the waterfall.

Situmurun Waterfall is around 70 meters high. Flanked between Jonggi Ni Huta and Hutanamora village. It is in Lumban Julu district, Toba Samosir.

All the guests felt wonderful seeing the natural spectacular wealth. They really admired the scenery in Situmurun. Finally, we finished our trip. We came back to Toledo Inn. It was a wonderful day joined the Lake Toba trip with 14 guests from Holland and Belgium.

Writer: Damayanti Sinaga who also work as Lake Toba Tour Guide

Sumatra Tour Guide’s Journey with the Bron Family from Switzerland

When I received the assignment to accompany the Bron family from Switzerland on their journey through North Sumatra, I knew that my responsi...